Muslimahzone.com - Mawar selalu menjadi bunga kesukaanku. Aku
selalu terkesan dengan betapa sempurnanya mereka – untuk sesaat. Tetapi pada
saat ini dan saat-saat berikutnya, aku membawa Mawar sebagai sebuah pelajaran
berharga. Dan maksudku bukan sebuah pelajaran Botani dan Holtikultura. Maksudku
adalah, sebuah pelajaran hidup.
Apa yang terjadi pada kelopak sempurna dari Mawar,
hanya beberapa hari setelah mekar? Apakah akan menjadi merah terang, sebuah
mawar yang indah menakjubkan hati? Kelopak ini akan lay dan kering. Warna Merah
terangnya akan menjadi kuning atau coklat. Mawar yang dulunya penuh dengan
keindahan dan kehidupan, berubah menjadi helai-helai kering yang akan jatuh dan
rapuh bila disentuh sedikit saja. Dan tak peduli sesulit apa kita berusaha, tak
peduli sesering apa kita menyiramkan air pada Mawar, kita tidak dapat melindunginya
dari saat layu mereka.
Proses ini, jika kalian berpikir tentang yang terjadi
ini, bukan tanpa alasan. danAllah berfirman di dalam Al-Quran dengan jelas
tentang sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari tanaman.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini
hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah
antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti
hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu
menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di
akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadiid
(57): 20)
Maka kelayuan atau keringnya sebuah mawar adalah salah
satu tanda kekuasaan Allah untuk kita. Ini adalah salah satu yang paling
penting bagi kita, Namun yang paling sulit adalah untuk mengajarkan realitas
kehidupan: Tidak ada yang selamanya. Segala sesuatu akan hancur kecuali Allah.
Di Televisi, terlihat para bintang film atau aktris
atau model cantik kemanapun kita pergia, gambar mereka menghiasi sampul
majalah, koran, papan iklan, dll. Mereka mengoceh tentang kecantikan keindahan
tubuh dan kecantikan ‘sempurna’ mereka. Tetapi apa yang terjadi dengan
wajah-wajah mereka setelah 10, 20. 30 tahun kemudian? Mereka menjadi keriput,
kecantikan mereka memudar, mereka mati. Apa yang terjadi dengan akal yang sehat
dan cerdik, mungkin 50 tahun kemudian seseorang yang memiliki akal sehat dan
cerdik sedang membuat terobosan baru? Mungkin mereka sedang mengingat-ingat
nama mereka di rumah.
Dan realitas tersebut untuk membuat kita tertekan dan
untuk menjatuhkan kita ke dalam kecerobohan? Tidak, realitas tersebut adalah
untuk menyadarkan kita. itu hanyalah kehidupan duniawi yang tak berarti karena
tak dilandasi dengan petunjuk Allah.
Contoh dari Mawar yang melayu, dan dengan rapuhnya
buga hingga menjadi hancur, Allah mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di
alam semesta ini akan hancur pada saatnya. Allah mengingatkan kita bahwa tidak
ada yang kekal, kecuali Allah. Realitas ini tidak seharusnya membuat kita sedih
atau tertekan, tetapi jadikanlah sebuah kesadaran dan pengingat bahwa loyalitas
atau kecintaan terbesar kita tidak seharusnya diberikan kepada hal-hal yang
fana (urusan duniawi).
Allah juga mengingatkan kita di dalam Al-Quran:
Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah,
tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia.
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan,
dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (A-Qashash (28): 88)
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap
kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman (55):
26-27)
Pernyataan yang mendalam yang dimaksudkan untuk
menyadarkan manusia. Dan dalam sebuah surat yang pendek Allah mengingatkan kita
tentang masa (waktu) kehidupan:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran.” (A-‘Ashr: 1-3)
Tetapi pertanyaannya: Manusia dalam kerugian? Kerugian
apa yang dimaksud?
(dikutip dari Tafsir Al-Azhar)
Allah telah bersumpah atas nama waktu. Hal ini
menunjukkan betapa pentingnya waktu. Dunia terus berputar dan berlalulah masa
demi masa, suka dan duka, masa muda dan masa tua. Ada masa hidup, kemudian mati
dan tinggallah kenang-kenangan ke masa lalu. Setelah itu kita pun akan pergi ke
alam kubur dan habislah masa yang kita pakai dan yang telah lalu tidaklah dapat
diulang lagi, dan masa itu akan terus dipakai oleh manusia yang tinggal, silih
berganti, ada yang datang dan ada yang pergi.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam
kerugian.” (ayat 2). Di dalam masa yang dilalui itu manusia hanyalah merugi.
Dalam hidup tidak ada keuntungan sama-sekali. Hanya rugi yang didapati, Sehari
mulai lahir ke dunia, di hari itu pula usia sudah berkurang satu hari. Setiap
hari dilalui, sampai hitungan bulan dan tahun, dari muda ke tua, hanya kerugian
jua yang didapat. Di waktu kecil senanglah hati dalam pangkuan ibu, itu pun
merugi karena belum merasakan arti hidup dan hanya menjadi beban bagi orang
lain. Setelah beranjak dewasa menjadi mandiri dan berkeluarga. Namun kerugian
pun datang lagi. Sebab hidup mulai banyak tanggung jawab. Dan tanggung jawab
akan lebih besar lagi bila anak telah terlahir yang harus dididik dan diasuh
sampai sang anak mandiri.
Di waktu badan masih muda dan gagah perkasa harapan
tergantung diatas langit. Tetapi bilamana usia mulai lanjut barulah kita sadar
bahwa tidaklah semua yang kita angankan di waktu muda bisa tercapai. Banyak
pengalaman di masa muda telah menjadi kekayaan jiwa setelah tua. Kita berkata
dalam hati supaya beginilah yang seharusnya dikerjakan, begini mengurusnya,
begitu melakukannya, dsb. Pengalaman di masa muda adalah sangat berharga.
Tetapi kita tidak ada kekuatan lagi buat
mengerjakannya. Dan yang bisa kita lakukan hanyalah menceriterakan pengalaman
itu kepada yang muda agar bisa lebih baik dan tidak melakukan kesalahan yang
sama. Sesudah itu kita bertambah lemah, bertambah letih, bahkan mungkin menjadi
beban bagi anak dan cucu. Sesudah itu kita pun mati! Itu kalau umur panjang.
Kalau usia pendek kerugian itu akan lebih besar lagi. Belum ada apa-apa kita
pun sudah pergi. Kerugian dan kerugian yang ada pada hidup.
Kecuali orang yang beriman.” (awal ayat 3). Yang tidak
akan merasakan kerugian dalam masa hanyalah orang-orang yang beriman.
Orang-orang yang mempunyai kepercayaan bahwa hidupnya ini adalah atas kehendak
Yang Maha Kuasa.
Manusia datang ke dunia ini sementara waktu, namun
masa yang sementara itu dapat diisi dengan baik karena ada kepercayaan, ada
tempat berlindung. Iman menyebabkan manusia sadar dari mana datangnya. Iman
menimbulkan kesadaran apa arti dia hidup di dunia ini, yaitu hanyalah untuk
beribadah kepada Maha Pencipta. Iman menimbulkan keyakinan bahwasanya sesudah
kehidupan ini da kehidupan lagi. Itulah hidup yang sebenarnya, hidup yang
kekal. Disana kelak segala sesuatu yang kita lakukan selama masa hidup di dunia
ini akan diberi nilainya oleh Allah. “Dan beramal yang shalih,” bekerja yang
baik dan berfaedah. Sebab hidup itu adalah suatu kenyataan dan mati pun kenyataan
pula, dan manusia yang di sekeliling kita pun suatu kenyataan pula. Yang baik
adalah terpuji dan yang buruk adalah merugikan diri sendiri dan merugikan orang
lain.
Cahaya Iman yang telah tumbuh dalam jiwa telah menjadi
keyakinan, dengan sendirinya akan menimbulkan perbuatan yang baik. Dalam
kandungan perut ibu tubuh kita bergerak. Untuk lahir ke dunia kita pun
bergerak. Maka hidup itu sendiri pun adalah gerak. Gerak itu adalah gerak maju!
Berhenti sama dengan mati. Mengapa kita berdiam diri? Mengapa kita berpangku
tangan? Tubuh kita mempunyai kecenderungan untuk bergerak, maka kita pun
haruslah aktif bergerak. Bekerja hanyalah satu dari contoh, kerja baik atau
kerja jahat.
Setelah kita meninggal dunia kita menghadapi dua
kenyataan. Kenyataan pertama adalah, kenang-kenangan terhadap orang yang kita
tinggalkan. Amal kita semasa hidup, akan menjadi kenangan bagi orang-orang yang
kita tinggalkan. Kenangan itu hidup lebih lama daripada masa hidup kita
sendiri. kenyataan yang kedua ialah bahwa kita kembali ke hadirat Allah.
Dan sebagai Mu’min kita percaya bahwa di sisi Allah
lah amalan yang kita kerjakan itulah menjadi pembela atau beban kita dihadapan
Allah. Dan beruntunglah orang-orang yang menghiasi hidupnya dengan amal yang
shalih sehingga hidupnya tiada merugi. “Dan berpesan-pesanan dengan Kebenaran”.
Karena bahwa hidup itu adalah hidup bermasyarakat. Kita merupakan makhluk
sosial. Maka hubungkanlah tali silaturahmi dengan sesama manusia, saling
memberi peringatan tentang kebenaran. Supaya yang benar itu dapat dijunjung
tinggi bersama. Saling mengingatkan pula mana yang salah, supaya yang salah itu
sama-sama dijauhi.
Dengan demikian beruntunglah masa hidup. Tidak akan
pernah merasa rugi. Karena setiap personal merasakan bahwa dirinya tidaklah
terlepas dari orang lain. Dan rugilah orang yang menyendiri, yang menganggap
kebenaran hanya untuk dirinya sendiri. “Dan berpesan-pesanan dengan Kesabaran”.
Tidaklah cukup kalau hanya saling berpesan tentang Kebenaran. Sebab hidup di
dunia itu tidaklah datar saja. sering kaki ini terantuk duri, tersandung batu.
Berbagai halangan merintangi hidup kita ini. Kesusahan dan kemudahan datang
silih berganti.
Banyak orang yang merugi karena dia tidak tahan
menempuh rintangan dan halangan dalam hidup. Dia rugi sebab dia mundur, atau
dia rugi sebab dia tidak berani maju. Dia berhenti di tengah perjalanan.
Padahal berhenti sama artinya dengan mundur. Sedangkan umur berkurang juga.
Maka kerugianlah yang akan menyertai masa hidup ini. Bila tanpa disertai dengan yang empat ini: (1) Iman, (2) Amal shalih, (3) Ingat-mengingat tentang Kebenaran, (4) Ingat-mengingat tentang Kesabaran.
Ibnul Qayyim di dalam kitabnya “Miftahu Daris-Sa’adah”
menerangkan; “Kalau keempat martabat telah tercapai oleh manusia, maka hasilnya
adalah kesempurnaan hidup. Pertama: Mengetahui Kebenaran. Kedua: Mengamalkan
Kebenaran itu. Ketiga: Mengajarkannya kepada orang yang belum tau. Keempat:
Sabar di dalam mengingatkan dalam menghadapi cobaan. Jelaslah susunan yang
empat itu di dalam Surat ini.
Dalam Surat ini Allah menerangkan martabat manusia.
Dan Allah bersumpah, demi masa, bahwasanya tiap-tiap orang merugi dalam
hidupnya kecuali orang yang beriman. Yaitu orang yang mengetahui kebenaran lalu
mengakuinya. Itulah martabat pertama. Beramal yang shalih, yaitu setelah
kebenaran itu diketahui lalu diamalkan; itulah martabat yang kedua.
Berpesan-pesanan dengan Kebenaran itu, tunjuk menunjuki jalan ke sana. Itulah
martabat ketiga. Berpesan-pesanan, nasihat-menasihati, supaya sabar menegakkan
kebenaran dan teguh hati jangan bergoncang. Itulah martabat keempat. Dengan
demikian tercapailah kesempurnaan.
Sebab kesempumaan itu ialah sempurna pada diri sendiri
dan menyempumakan pula bagi orang lain. Kesempurnaan itu dicapai dengan
kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Dan menyempumakan orang lain ialah dengan
mengajarkannya kepada mereka dan mengajaknya bersabar dalam berilmu dan
beramal.
Imam asy-Syafi’i berkata: “Kalau seluruh manusia di
muka bumi ini mau merenungkan Surat ini, sudah cukuplah itu baginya.”
Maka segala puji bagi Allah yang telah membuat Surat
ini, meskipun pendek namun isinya mengumpulkan kebajikan dengan segala cabang
rantingnya. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kitabnya menjadi
petunjuk bagi setiap aspek kehidupan, pengobat dari segala macam penyakit dan
penunjuk bagi segala jalan kebenaran.”
Wallahu’alam bishshawwab.
Bunga-bunga
mekar yang indah merona
Akan layu dan gugur
Yang membuat kita jatuh cinta pada awalnya
Namun besok adalah musim gugur
Hanya Allah yang kekal
Sedangkan kita akan hancur
Akan layu dan gugur
Yang membuat kita jatuh cinta pada awalnya
Namun besok adalah musim gugur
Hanya Allah yang kekal
Sedangkan kita akan hancur
ref: – Forum Muslima, -Tafsir Al-Ahzar surat Al-’Ashar
(zafara/muslimahzone.com)
Semoga bermanfaat
TKP

Komentar
Posting Komentar