Langsung ke konten utama

Inferiority Complex




Bedakan Minder dengan Inferiority Complex

Oleh: Najib Abdillah

Sejatinya semua orang memiliki kekurangan. Hanya letaknya saja yang berbeda-beda. Oleh karena itu manusia diciptakan untuk saling mengisi dan berbagi. Begitulah kenyataannya.

Dengan begitu derajat manusia itu sama. Sebab berasal dari sumber yang sama. Yang membedakannya ialah akal budi dan moral yang dimilikinya. Selain itu tidak. Lalu, mengapa masih ada rasa minder pada diri seseorang?

Rasa minder, tidak percaya diri, rendah diri, atau apapun namanya memang sering kita alami. Sebagai manusia normal, tiap individu pasti pernah merasakannya. Walau hanya sekejap saja. Kenapa? Sebab tingkat kepercayaan diri seseorang memang fluktuatif sifatnya. Kadang tinggi kadang rendah. Tergantung mood-nya.

Sebagian besar rasa minder disebabkan oleh hal-hal yang berhubungan dengan fisik atau materi. Bentuk tubuh, raut wajah, warna kulit, cacat fisik, dsb. Juga karena jumlah materi yang ia punyai. Sedikit sekali yang disebabkan oleh rendahnya kualitas diri. Tingkat intelektual, misalnya.

Sebenarnya gejala minder tidak perlu terapi khusus. Asalkan ia berupa gejala biasa yang lekas hilang. Menjadi berbahaya jika ia sudah menjadi cara pikir. Akhirnya melekat menjadi kepribadian seseorang. Inilah yang disebut dengan inferiority complex. Maka, bedakan pengertian antar-keduanya.

Pengertian sederhana inferiority complex ialah sebuah rasa rendah diri yang timbul akibat konflik dalam diri seseorang. Sebuah konflik yang terjadi antara keinginan untuk diperhatikan dan rasa takut untuk dipermalukan. Sehingga setiap kegiatan yang ingin dilakukan selalu dibatasi oleh kedua hal itu.

Sebagai contoh, seorang yang ditunjuk memberikan pidato dalam sebuah acara, tidak berani maju. Ia bukan tanpa persiapan. Teks pidato sudah dibuatnya. Akan tetapi, ia selalu berpikir apakah pidatonya nanti akan ditertawai atau tidak. Di sisi lain, ia juga ingin menunjukkan (show off) bahwa dirinya adalah orator handal.  

Perbedaan paling mendasar antara minder yang biasa dengan inferiority complex adalah dari segi cara orang itu bertindak. Orang yang memiliki rasa minder yang normal justru menjadikan mindernya itu menjadi pemacu untuk menjadi lebih baik. Bersifat konstruktif. Orang yang mengidap inferiority complex semakin membenamkan dirinya ke dalam keputusasaan. Malah jauh lebih mundur dari keadaan semula. Sangat destruktif.

Jadi, perasaan minder adalah hal yang wajar. Selama ia tidak berubah menjadi persepsi dan menetap di dalam alam bawah sadar seseorang. Tuhan menciptakan rasa ini agar manusia mau mengevaluasi diri. Membuat daftar kelemahan-kelemahan dan berusaha untuk mengubahnya. Bukan sebaliknya, membuat kita semakin tertekan.

Semoga bermanfaat

TKP

 
Sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/08/12/bedakan-minder-dengan-inferiority-complex/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu RumahMu

“Labbaik Allaahumma labbaik, Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka, laa syariikalak”.  Artinya: Aku datang memenuhi panggilan Mu Ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan Mu Ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan Mu Ya Allah tidak ada sekutu bagi Mu, Aku datang memenuhi panggilan Mu. Sesungguhnya segala puji, ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milik Mu, tidak ada sekutu bagi Mu. Yayasan pendidikan tempat saya bekerja memberikan 1 tiket gratis perjalanan umroh setiap setahun sekali bagi setiap karyawannya yang dianggap memenuhi syarat. Biasanya akan diberikan setiap acara halal bihalal lebaran idul fitri. Sore itu, saya ingat sekali, banyak sekali tamu yang datang untuk menanyakan informasi tentang sekolah dan bimbel. Saya bekerja di divisi bagian informasi sudah pasti harus tetap standbye di meja depan walaupun acara tengah berlangsung. Saya dengan senang hati tetap melayani tamu di depan, toh makanan akan tetap di antar ke ...

Sepotong Hati Saya Tertinggal Disana

  I hate small talk. I wanna talk about atoms, death, aliens, magic, intellect, the meaning of life, faraway galaxies.... Namun, terkadang ada di suatu waktu, saya tidak ingin bercerita. Apalagi bercerita banyak hal. Tentang apapun, atau kepada siapapun. Berdiam diri adalah suatu relaksasi buat saya dari kepenatan berbagai hal. Berdiam diri dan hanya menjadi observer di sekeliling saya. Mencerna banyak hal tanpa harus berkata kata. Seperti setahun belakangan ini, tak banyak hal yang ceritakan disini. Tidak seperti tahun sebelumnya. Kali mungkin masih sama. Walaupun saya baru saja mengalami seperti terbangun dari mimpi...mimpi yang selama ini hanya ada jauh didasar mimpi mimpi saya, ternyata bisa menjadi nyata. Itu adalah benar benar perasaan luarbiasa yang tak terkatakan. Hanya satu kalimat yang mungkin mewakili perasaan saya saat ini; "saya jatuh cinta, sepotong hati saya tertinggal disana" di rumah Allah...

Saya Ingin Memberi Tahu Kamu Sesuatu..

Kamu tahu, apa yang paling menarik perhatian saya beberapa waktu belakangan ini? Buku-buku? Bukan . Kucing-kucing imut? bukan Cuaca? Yes. Cuaca. Kamu tahu mengapa? Sebentar langit mendung gelap matahari tertutupi awan awan pekat sebentar kemudian langit cerah terang benderang. Saya benar-benar memperhatikannya dari balik dinding kaca ruangan kantor saya. sejak berjam-jam tadi pagi-memperhatikan dari tempat duduk saya. tapi saya tidak tahu apa di tempatmu juga sama seperti disini. Seperti saat ini, saya lihat keluar-keatas tepatnya, awan gelap tampak menggantung di langit. Padahal jelas-jelas tidak lama tadi sinar matahari begitu menyilaukan..hmm.. Ah sudahlah. Itu bukan urusan saya memusingkannya. Saya saat ini sedang tidak ingin mencari-cari jawab seperti biasa. Saya ingin menikmatinya saja saat ini. Nah. belum 5 menit saya mengetik tentang si awan gelap tiba-tiba matahari kembali datang. Masha Allah.. Apakah hujan akan turun? Nobody knows. B...