Itu adalah
judul sebuah buku dari seorang penulis bernama Mas Udik Abdullah. Buku yang
membahas mengenai pernikahan secara Islami.
Sejak dua
bulan belakangan ini saya sering membaca buku-buku tentang pernikahan. Padahal
sebelumnya saya jarang sekali membaca buku-buku tentang pernikahan, hampir
tidak pernah malah. Bila ke toko buku, saya bahkan lebih suka ‘menjaga jarak’ alias menghindari
rak-rak buku yang khusus membahas tentang pernikahan. Saya lebih suka
melihat-lihat koleksi buku-buku sejenis Chicken Soup, novel-novel atau majalah-majalah yang temanya tidak ada hubungannya sama sekali dengan pernikahan. Saya juga suka membaca buku-buku bertema
agama, tapi sekali lagi buka tentang pernikahan.
Tapi entah
mengapa, sekitar dua bulan yang lalu, saya mendapat banyak pinjaman tentang
buku-buku yang membahas tentang
pernikahan dalam konten islami. Saya juga heran, mengapa teman saya itu dengan
senang hati dan suka rela meminjamkan sejumlah buku-buku kepada saya. Memang
sih tidak semua tentang pernikahan, ia
juga meminjamkan beberapa novel yang saya suka. Saya dan teman saya itu memang
sama-sama penggemar buku. Jadi kami saling barter buku. Tapi dia benar-benar
baik, saya hanya meminjamkannya dua buah buku, dia malah meminjamkan saya lebih
dari itu…(makasih banyak ya Ainiii... )
Saat menerima
buku-buku itu, saya senang sekali, tapi ketika saya lihat ada beberapa judul
tentang pernikahan, saya hampir ingin menolaknya, dan hanya memilih buku-buku
yang saya suka saja. Tapi teman saya itu tidak mau membawanya kembali, karena
kata teman saya itu, buku-buku itu hanya akan memenuhi tas nya saja dan dia
malas membawa tas yang berat saat pulang nanti … ya sudah, saya ‘terpaksa’
menerima semua buku-buku itu, dan
akhirnya tas saya-lah yang berat karena penuh dengan buku-buku pinjaman dari
dia.
Singkat
cerita, walaupun saya tidak menyukai tema pernikahan, saya tetap membacanya…mana
ada di dalam kamus membaca saya, menyia-nyiakan buku-buku yang sudah ada di
depan mata.
Akhirnya saya
membaca buku-buku yang di luar ‘kebiasaan’ saya tersebut. Pernikahan. itu
adalah tema yang sering saya hindari. Malas membahasnya. Malas mengetahui
segala sesuatu yang berhubungan tentang pernikahan. intinya menghindari. Karena
saya pikir, saya belum ada niat menikah dalam waktu dekat ini, untuk apa saya
membaca yang berhubungan tentang pernikahan…mungkin nanti-nanti saja di saat
saya memang akan menikah..bermanfaat di saat yang tepat, begitu menurut saya.
Namun, ‘keisengan’
saya membaca buku-buku tentang pernikahan ternyata mulai mengubah pola pikir
saya tentang pernikahan khususnya. Buku Bila Hati Rindu Menikah sebenarnya paling tipis diantara
buku-buku bertema yang sama yang dipinjamkan oleh teman saya tersebut. Hanya
sekitar 170-an halaman. Bahasanya sederhana, tapi mudah dipahami oleh saya yang
awam soal pernikahan, khususnya di jalur yang Islami. Di dalamnya juga dibahas
secara singkat mengenai yang perlu diketahui tentang pernikahan, indahnya
menikah, betapa ruginya bila takut menikah dan cara mengatasinya dan dibahas juga
mengenai manajemen penantian yang melalui ikhtiar lahir dan bathin.
Selain buku Bila
Hati Rindu Menikah, ada satu judul buku lagi yang cukup menarik buat saya (pada
akhirnya…hehe..) yaitu Baarakallahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta yang ditulis
oleh Salim A. Filah. Berbeda denga buku sebelumnya, buku ini mempunyai halaman
yang cukup tebal, ada sekitar 500-an halaman. Bahasa yang dipakai juga sudah
cukup ‘serius’ bagi saya khususnya (g tau kalo yang udah sering baca buku-buku bertema
pernikahan Islami..hehe menjurus ke sebuah nama#Aini#), jadi sampai detik ini
saya belum menyelesaikan buku ini. Karena tebal, jadi yang dibahas pun lebih
lengkap dari buku yang pertama saya baca. Tagline covernya yaitu : Sebuah Three
In One Perayaan Cinta yang hadir untuk mengasah kepekaan cinta dalam
pernikahan, menghadirkan citarasa barokah, dan melukiskan dengan warna surga. Karena
itulah saya berniat mencari dan membeli buku ini, menurut saya buku cukup bagus
untuk dikoleksi. Saya ingin benar-benar membacanya, tidak membaca dengan teknik
skipping-skimming, jadi saya bisa memahami isi buku ini. saya tidak ingin bila membaca
tapi tidak ada manfaat bagi saya.
Saya memang belum
menikah, dan segala sesuatu yang berhubungan tentang pernikahan memang masih
abstrak bagi saya. Belakangan memang saya banyak membaca buku tentang
pernikahan, meminjam atau bahkan membeli sendiri…akhirnya…sekarang saya
mempunyai koleksi buku tentang pernikahan, padahal tema itu sebelumnya sangat
saya hindari..#insap-nih-kayanya#
Saya memang belum
menikah, tapi sepertinya Yang Maha Berkehendak ingin saya mempersiapkan
secara konkret terlebih dahulu pengetahuan, mental dan spiritual, tidak hanya persiapan fisik
dan materi seperti perlengkapan nikah atau pestanya saja, karena menikah itu
adalah ibadah untuk mewujudkan kebagiaan dunia dan akhirat. Akhirnya
setelah membaca buku-buku tentang pernikahan, diantaranya 2 buku yang saya
ceritakan diatas, saya mulai mempunyai doa dan permohonan mengenai pernikahan
saya nanti. Saya ingin menyempurnakan setengah agama saya dan saya ingin
menikah karena Allah. Semoga saya bisa menjadi istri yang sholehan bagi suami
saya kelak, menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya nanti, dan juga bermanfaat
bagi sesama. Amiin Allhumma Aamiin.
Khusus dari buku
ini, Baarakallahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta, ada beberapa kutipan yang
cukup menyentil, menggugah hati saya:
“ Dulu aku
pernah menganggap bahwa membenci sebuah perbuatan tanpa membenci orangnya
adalah omong kosong dan mustahil. Tetapi sekarang aku merasa bahwa aku melakukannya
pada seseorang: diriku sendiri! “
“ Setiap orang
ibarat bulan memiliki sisi kelam, yang tak pernah ingin ia tunjukkan pada
siapapun. Pun sungguh
cukup bagi kita, memandang sejuknya permukaan bulan, pada sisi yang mengahadap ke
bumi.”
“ Ada pergiliran.
Ada pergantian musim. Ada terang dan gelap. Ada siang dan malam. Ada pagi dan
petang. Semuanya menyatu, datang silih satu sama lain, melengkapi,
menyempurnakan, dan menguatkan ikatan.”
“ Dalam sukar,
hitunglah kesyukuranmu. Dalam senang, awasilah kealpaanmu. Setitis derita
melanda, segunung kurniannya.”
(Hijjaz:
Lukisan Alam)
“ Semua bermula
dari hati. Ketika hati kita jernih, ada kesiapan untuk belajar lebih banyak,
ada semangat yang besar untuk menambah ilmu, ada hasrat yang kuat untuk
memberikan yang terbaik bagi semua orang. Dan setelah hati yang jernih, ada
ilmu yang menerangi.”
“ Hidup seorang
mukmin adalah pembelajaran yang tak kenal henti. Nilai dirnya bukan pada harta
yang ia kumpulkan, tetapi pembelajaran kehidupan yang ia dapat dari amalan.”
“Tidak ada tempat
berengkuh dan tidak ada perlindungan kecuali naungan Rabb Yang Maha Esa lagi
Maha Perkasa. Hanya milikNya keabadian dan kekekalan. Hanya di sisiNya semata
ada ketetapan dan ketenangan..”
Semoga
bermanfaat.
TKP


cieee mbak tari :p
BalasHapusayo buruan sebar undangan :D
tapi kok saya jadi korban yaa -___-
kalo skr baru bisa sebar undangan ultah,itupun april tahun depan, wkwkw..
BalasHapusapril undangan pernikahan, mei undangan nikahan :D
BalasHapusamiin..hahaha..
BalasHapusAq copas jadiin status salah 1 kutipannya..
BalasHapus