Bila ditanya
apakah saya ingin memutar waktu kembali?
Saya akan menjawab
tidak.Setiap pagi, saya selalu berangkat kerja bersama-sama ayah. Kami biasa melewati jalan yang tidak dilalui kendaraan umum. Tapi jalan yg lebih umum dilalui kendaraan-kendaraan pribadi. Untuk saat ini sampai sebulan kedepan, saya tidak berangkat bersama ayah. Saya berangkat sendiri dengan menggunakan kendaraan umum. Jarak antara rumah dan tempat kerja saya cukup jauh dan memakan waktu hampir satu jam, membuat saya merasa lebih nyaman berangkat kerja dengan menggunakan kendaraan umum. Kendaraan umum yang saya pilih adalah bus transit kota karena saya tidak harus gonta ganti antara kendaraan umum yang satu ke yang satunya. Dengan begitu, jalan yang saya lalui untuk sebulan kedepan berbeda dari biasanya.
pagi ini, dari dalam perjalanan bus menuju tempat kerja, ada satu pemandangan yang selalu ingin saya lihat. Barisan pohon-pohon di tepi jalan. Area tempat yang saya lalui memang merupakan area hutan kota. Jadi tak heran bila pepohonan masih dibiarkan menghijau. Berbeda bila bus sudah melaju masuk ke wilayah pusat kota, pepohonan akan semakin jarang terlihat. Ada, tapi hanya di daerah tertentu saja.tidak sepanjang perjalanan ini. Wilayahnya hijau dan asri, apalagi bila kita berada di ketinggian saat berada di jembatan flyover, tampak di depan barisan bukit-bukit hijau dan pegunungan yang masih diselimuti kabut tebal berwarna biru keabu-abuan.
dan setiap melewati jalanan ini, saya seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun. Saya merasa seperti pernah berada di tempat ini sebelumnya. Tak asing rasanya; jalanan yang ditumbuhi barisan pepohonan.
Dulu,
dulu sekali, saya memang pernah tinggal di tempat yang hampir sama seperti jalanan
yang kini sering saya lalui ini. Rumah saya persis di pinggir jalan. Yang
dipinggirnya ditumbuhi pohon-pohon. Saya
lagi-lagi kembali memutar waktu ke memory belasan tahun yang lalu ke kota masa
kecil yang selalu diselimuti kabut. Kota yang sudah cukup lama saya tinggalkan.
Berkali-kali berencana berlibur kesana tapi selalu ada saja alasan yang
membuatnya batal. Mungkin memang belum saatnya saya kembali.
Begitu banyak
potongan kenangan tertinggal disana. Semakin saya dewasa, saya merasa semakin
banyak potongan-potongan kenangan itu muncul kembali. Saya tidak tahu,
apakah ada sesuatu yang belum tuntas? Selama ini, saya menganggap yang telah
lalu berarti telah usai. Saya tidak pernah ingin kembali ke masa lalu. Saya
tidak ingin memutar waktu. Tak ada yang perlu diperbaiki. Tak ada yang perlu
disesali. Itu jalannya, itu sudah takdirnya. TakdirNya baik. Saya percaya itu.
Tapi
perasaan memang tak pernah bisa dibohongi.mungkin memang ada yang belum tuntas, ada yang perlu
disampaikan. di sisi lain, hati saya menyatakan
“Sudah...cukup, kembalilah ke masa kini. Jangan kembali lagi ke masa
itu. Tak ada lagi yang perlu disampaikan”.
Pagi ini, di dalam bus transit kota menuju tempat kerja, di putar lagu yang beberapa potong liriknya berirama di hati saya:
I can only imagine
What it will be like
When I walk
By your side
I can only imagine
What my eyes will see
When your face
Is before me
I can only imagine
Bila ditanya apakah saya ingin memutar waktu kembali?
What it will be like
When I walk
By your side
I can only imagine
What my eyes will see
When your face
Is before me
I can only imagine
Bila ditanya apakah saya ingin memutar waktu kembali?
Saya
akan menjawab tidak.
Saya
tidak pernah ingin kembali ke masa lalu. Saya tidak ingin memutar waktu. Tak ada
yang perlu diperbaiki. Tak ada yang perlu disesali. Itu jalannya, itu sudah
takdirnya. TakdirNya baik. Saya percaya itu.
TKP

Komentar
Posting Komentar