Jumat. 5 Oktober 2012. 12.43
Setiap melihat hewan-hewan terlantar, kucing khususnya, saya pasti akan selalu merasa iba. Tapi saya tidak tahu harus bagaimana. Saya hanya bisa menatap kasihan dan berdoa, semoga penderitaan kucing-kucing tersebut segera berakhir. Entah itu diadopsi seseorang yang baik hati dan punya cukup waktu dan cukup dana untuk merawat kucing-kucing terlantar ini atau di tampung di tempat penampungan hewan. Tapi, berbicara tentang tempat penampungan hewan terlantar, saya rasa di kota saya tinggal belum ada. Atau mungkin saya belum tahu tempatnya dimana. Mungkin kalo saya tahu dimana tempatnya, setiap menemukan atau melihat kucing-kucing terlantar, akan saya drop ke tempat penampungan tersebut.
Setiap melihat hewan-hewan terlantar, kucing khususnya, saya pasti akan selalu merasa iba. Tapi saya tidak tahu harus bagaimana. Saya hanya bisa menatap kasihan dan berdoa, semoga penderitaan kucing-kucing tersebut segera berakhir. Entah itu diadopsi seseorang yang baik hati dan punya cukup waktu dan cukup dana untuk merawat kucing-kucing terlantar ini atau di tampung di tempat penampungan hewan. Tapi, berbicara tentang tempat penampungan hewan terlantar, saya rasa di kota saya tinggal belum ada. Atau mungkin saya belum tahu tempatnya dimana. Mungkin kalo saya tahu dimana tempatnya, setiap menemukan atau melihat kucing-kucing terlantar, akan saya drop ke tempat penampungan tersebut.
Jujur dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya ingin sekali bisa merawat kucing-kucing terlantar tersebut.. Tapi sayangnya saya tidak bisa. Atau mungkin belum bisa tepatnya. Keterbatasan waktu, tempat dan dana adalah penyebab utama. Klasik memang: waktu, ruang dan dana.
Sedih sekali bila melihat hewan-hewan terlantar ini diperlakukan tidak wajar. Disiksa secara fisik, bahkan sampai cacat atau kehilangan bagian dari tubuhnya Walaupun hewan, bagaimanapun juga, mereka berhak diperlakukan wajar. Mengenai hak hewan ini, kita tidak hanya membicarakan kucing saja, ada hewan-hewan lain. Khusus mengenai hal ini, sebenarnya kita memiliki hari yang khusus diperingati sebagai hari hak azazi hewan, yang jatuh setiap tanggal 15 Oktober.
Sedih sekali bila melihat hewan-hewan terlantar ini diperlakukan tidak wajar. Disiksa secara fisik, bahkan sampai cacat atau kehilangan bagian dari tubuhnya Walaupun hewan, bagaimanapun juga, mereka berhak diperlakukan wajar. Mengenai hak hewan ini, kita tidak hanya membicarakan kucing saja, ada hewan-hewan lain. Khusus mengenai hal ini, sebenarnya kita memiliki hari yang khusus diperingati sebagai hari hak azazi hewan, yang jatuh setiap tanggal 15 Oktober.
Memang terdengar aneh, peringatan hari hak azazi hewan. Tapi kenyataannya hari itu memang ada. Mungkin sebagian orang akan berpikir, untuk apa mengurusi hal seperti ini. Hewan-hewan ini toh tidak pernah menuntut untuk dibela. Untuk masalah hak azazi pada manusia saja belum kunjung selesai permasalahannya. Nah ini malah membicarakan hak azazi pada hewan. Tapi sebagai makhluk berakal kita ditugaskan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menjaga dan memelihara apa yang ada di bumi ini. Tumbuhan, hewan. Sudah pasti saling menjaga juga untuk sesama manusia. Berlaku adil, bijaksana dan berselaras terhadap sesama ciptaan manusia. Kita adalah makhluk yang saling membutuhkan.
Akal yang diberi Tuhan untuk kita itulah yang menuntun kita pada hal yang benar atau yang salah. Kita mempunyai rasa belas kasih. Itulah yang kita pergunakan seharusnya berlaku untuk sesama makhluk ciptaan Tuhan. Kepada tumbuhan, hewan-hewan, dan sudah pasti, sekali lagi kepada sesama manusia.
Tulisan dibwah ini adalaah artikel pendek yang saya anggap cukup menarik yang membahas mengenai dasar lahirnya hari hak azazi hewan. Artikel ini saya dapatkan di:
http://media.kompasiana.com/new-media/2011/10/16/hak-asasi-binatang-spesiesme/
Hak Asasi Binatang Spesiesme
Oleh Hartono
Tasir Irwanto
Di bumi ini, Kita hidup dengan beraneka ragam spesies
dan klasifikasi. Ada Flora, Fauna dan Kita sendiri (manusia). Sayangnya,
manusia seringkali ingin menang sendiri dan menganiaya spesies lain, utamanya
hewan. Bukan kapitalisme, radikalisme, ataupun rasisme. Tapi pada tingkat yang
lebih sensitif lagi. Inilah yang disebut spesiesme.
Mengapa Kita perlu untuk
mendiskusikan tema berkenaan hak asasi binatang (hewan) ?. Mungkin ini
alasannya :
Pendataan terbaru menyimpulkan bahwa spesies hewan di
bumi nan luas ini sekitar 7,77 juta spesies hewan, yang 953.434 di antaranya
telah ditemukan dan dicatat. Di indonesia sendiri, 25% dari spesies ikan dunia
bisa ditemukan di perairan pesisir nusantara. Itu masih spesies Ikan, belum
termasuk mamalia, burung, reptil dan varietas-varietas lainnya. Yang perlu
untuk ditanyakan pada diri Kita masing-masing adalah : Dari mana bahan baku
Pakaian Kita ?. Seperti jaket kulit, tas kulit, sepatu, ikat pinggang, Mantel
berbulu. Kalau dari kulit hewan, bagaimana kulit mereka diambil. Sudah sesuai
syarat-kah ?. Atau pertanyaan yang lebih urgen lagi, yakni darimana asal
makanan Kita ? Bagaimana hewan-hewan disembelih ?.
Dalam Film dokumenter Earthlings, Kita
disuguhkan fakta mengenai bagaimana hewan-hewan disembelih. Tidak jarang mereka
disembelih dengan Listrik, dipukul, ditusuk, disuntik, dikuliti hidup-hidup dan
berbagai penyembelian-penyembelian tak wajar lainnya. Saya anggap itu bukan
penyembelihan, itu adalah pembunuhan. Kebun binatang, sirkus, Entertainment,
tradisi banteng ala spanyol, dan perlombaaan menunggang hewan (padahal
bukan hewan tunggangan) kesemuanya itu telah menyalahi aturan. Mereka menyiksa
hewan-hewan tersebut. Melanggar hak asasi binatang. Terlalu naif ?. Saya
kira tidak. Bukankah Kita semua ciptaan Tuhan ?. Yang sudah pasti butuh
kebebasan untuk hidup. Parahnya lagi, Sains yang berdiri dibawah bendera ilmu
pengetahuan tidak jarang melakukan eksperimen yang malfungsi dan mengakibatkan
hilangnya nyawa sang hewan secara sia-sia dan menyakitkan. Segalanya jadi
hipokrisi dan keseolah-olahan.
Belum lama ini, di Indonesia juga santer oleh isu
pembantaian Orang Utan di Kalimantan. Juga berita tentang kekerasan pada ternak
sapi hingga Australia menghentikan Ekspor sapi ke Indonesia. Manusia juga
biasanya mengandangkan hewan. Menafikan jenis dari hewan tersebut. Padahal,
hewan-hewan tertentu (liar) tidak bisa dikandangkan. Walhasil mereka hanya
mondar-mandir dikandang. Misalnya : serigala atau harimau. Kebiasaan aneh
manusia lainnya adalah memanggil kucing atau anjing dengan iming-iming makanan
ditangan. Begitu kucing atau anjing mendekat ternyata makanan itu tidak ada.
Hanyalah pretentif, hewan saja Kita tipu. Pantaslah Mark Twain berkoar : ”
Manusia adalah makhluk yang paling menjijikkan “.
Ayah Soekarno pernah memukul Soekarno kecil karena
menjatuhkan sarang burung ketika memanjat pohon. Ayahnya mengajarkan Twat
Tuan Asi. Aku adalah dia. dia adalah Aku. Ya, kita semua berasal dari-Nya.
Sejatinya, Kita saling mengasihi, saling melindungi. Menerapkan sistem
simbiosis mutualisme adalah salah satu cara untuk menemukan langkah
solutif. Manusia memelihara hewan dengan baik. Sebagai gantinya, hewan akan
memberi telur, daging atau minimal hiburan bagi Kita, manusia. Sudah waktunya
Kita untuk melestarikan dan menjaga keanekaragaman hewani yang ada di Dunia, terlebih
di Indonesia. Persis seperti cara Jusuf Kalla melestarikan dan mempromosikan
hewan langka dan satu-satunya di dan pada Dunia, yaitu komodo.
Anatomi, biologis dan fisiologis ikan hampir sama
dengan mamalia, juga manusia. Jika ia ditusuk (dipancing, ditombak) tentulah
mereka merasakan sakit juga. Kita semua makhluk yang hidup. Mereka sama dengan
Kita. Mereka juga tumbuh, makan, emosi dan meraskan sakit. Marilah kita
kontemplatif atas hari hak asasi binatang se-dunia. Bukan hanya sekali setahun,
melainkan sesering mungkin kita renungkan dalam-dalam. Inilah momentum untuk
Kita yang masih merasa manusia dan berperilaku manusiawi untuk mempertimbangkan
kembali sumber makanan, gaya hidup, mode, fashion, hiburan dan utamanya cara
berpikir Kita. Mereka makhluk bumi, mereka berhak ada disini.
“ Merenungi Hari Hak Asasi Binatang “
Semoga bermanfaat
TKP

Komentar
Posting Komentar