Langsung ke konten utama

Penanda

Saya tidak pernah menghitung hari ke berapa ramadhan telah dilalui. Saya terlalu takut untuk berpisah dengan hari-hari penuh limpahan berkah.. takut tidak bisa bertemu kembali.

Sore ini, saya duduk duduk di depan teras rumah, sekedar merasakan semilir angin senja sambil menunggu berbuka. Baru tersadar oleh saya, jalan jalan terlihat sepi, yang biasanya ramai oleh keriuhan anak anak bermain mercon, mainan yang suara khasnya memekakkan telinga, yang sering muncul di saat ramadhan. Baru tersadar juga oleh saya, sepi dan gelapnya rumah rumah tetangga tetangga saya. pagar pagar dan pintu pintu yang terkunci. Sebuah tradisi, selalu berulang di setiap tahun, di saat hari hari terakhir ramadhan, menjelang hari raya. Tradisi yang disebut; mudik.

Saat ketika orang orang kembali ke akarnya, kembali ke asal, bertemu sanak saudara setelah berbilang waktu tak berjumpa. Kembali merekatkan tali silaturahmi. Karena itu, Saya tidak pernah menghitung hari ke berapa ramadhan telah dilalaui. Saya terlalu takut untuk berpisah dengan hari hari penuh berkah, takut tidak bisa bertemu kembali.

Tapi sebuah tradisi itu, membuat saya tidak perlu penanggalan, tradisi itulah sebagai penanda, ramadhan akan segera usai. Hari raya akan segera datang.


Taqaballahu mina wa minkum.

Komentar