Saya
tidak pernah menghitung hari ke berapa ramadhan telah dilalui. Saya terlalu takut
untuk berpisah dengan hari-hari penuh limpahan berkah.. takut tidak bisa
bertemu kembali.
Sore
ini, saya duduk duduk di depan teras rumah, sekedar merasakan semilir angin
senja sambil menunggu berbuka. Baru tersadar oleh saya, jalan jalan terlihat
sepi, yang biasanya ramai oleh keriuhan anak anak bermain mercon, mainan yang suara
khasnya memekakkan telinga, yang sering muncul di saat ramadhan. Baru tersadar
juga oleh saya, sepi dan gelapnya rumah rumah tetangga tetangga saya. pagar
pagar dan pintu pintu yang terkunci. Sebuah tradisi, selalu berulang di setiap
tahun, di saat hari hari terakhir ramadhan, menjelang hari raya. Tradisi yang
disebut; mudik.
Saat
ketika orang orang kembali ke akarnya, kembali ke asal, bertemu sanak saudara
setelah berbilang waktu tak berjumpa. Kembali merekatkan tali silaturahmi. Karena
itu, Saya tidak pernah menghitung hari ke berapa ramadhan telah dilalaui. Saya terlalu
takut untuk berpisah dengan hari hari penuh berkah, takut tidak bisa bertemu
kembali.
Tapi
sebuah tradisi itu, membuat saya tidak perlu penanggalan, tradisi itulah
sebagai penanda, ramadhan akan segera usai. Hari raya akan segera datang.
Taqaballahu
mina wa minkum.
Komentar
Posting Komentar