17.59
WIB
di
teras depan rumah.
di
kursi hijau.
dengan
suara mesin air berdenging berisik di belakang
saya,
mengisi
bak-bak air yang kosong.
di luar
pagar hijau-putih rumah.
jalan-jalan
tampak ramai.
anak-anak
lalu-lalang bermain-berlarian.
ditemani
semilir lembut angin senja yang disuka.
di atas
sana, langit memang masih biru. awan-awan putih masih bergantungan.
baru
terlihat sekilas semburat warna senja di ujung langit.
warna
senja belum nyata.
saya baru saja menyelesaikan bacaan novel
yang baru saja dibeli di hari kemarin. Judulnya Sang Penandai , karangan
Tere-Liye, pengarang yang setahun
belakangan ini novel-novelnya banyak saya baca.
cinta..oh cinta…
(xixixi…)
pertama kali terbit tahun 2011 silam. namun
entah mengapa novel ini saya pilih saja ketika tahu novel yang saya inginkan
sedang habis persediaanya di sebuah toko buku baru yang untuk pertama kalinya
saya kunjungi hari kemarin itu. gambar covernya bahkan menurut saya tidak
terlalu menarik. sekali lagi entah mengapa,saya pilih saja,. saya ingin
membacanya.
bagaimanapun, di setiap buku/novel, saya
yakin pasti penulisnya menitipkan pesan bagi pembacanya. suka atau tidak suka.
nyata atau tidak nyata tersurat didalamnya. ada yang bilang karya tere liye
kali ini mirip terjemahan novel arab (saya gak tau novel apa itu), tapi menurut
saya pribadi, ada di bagian tertentu yang terinspirasi atau sedikit mirip (atau
mirip banyak) dengan kisah roman tragis karya pujangga inggris; William
Shakeaspeare (yang menjadi mata kuliah pilihan yang saya pilih waktu di
semester akhir saat saya kuliah dulu.)…#dibagian mana baca sendiri aja
yaaa..haha…
dan pesan moral yang tersurat ke saya adalah
tentang sabar. mengajarkan apa itu sabar. realisasinya. bukan sekedar omong
doang. selain itu pesan yang paling jelas sekali tersurat adalah tentang
cinta..yaa..lagi-lagi tentang cinta. cinta sejati. cinta yang tak terlupakan. hoammmm..bagian
ini kita skip aja deh..hehe…tapi ada satu quote yang tidak saya skip, saya baca
pelan-pelan dan berusaha dimengerti pelan-pelan, karena mengenal
kalimat-kalimat ini, saya ingat, pernah ada seorang ibu yang bijaksana,
mengirimkan pesan singkat tentang cinta. tentang cinta itu….
“….bahwa cinta adalah kata kerja, dan sebagai kata
kerja jelas ia membutuhkan tindakan-tindakan, bukan sekedar perasaan-perasaan.”
nah itu dia..cinta perlu pembuktian. heii..mari
kita perluas makna cinta disini, jangan hanya ke seseorang
(lawan jenis) yang kita sayang aja, tapi bisa ke orang
tua, teman,sahabat, pekerjaan, mari kita perluas lagi ruang lingkupnya..cinta
kepada lingkungan, pohon-pohon, hewan-hewan…kemudian cinta kepada negara
dan bangsa..cinta kepada planet bumi ini, cinta kepada alam semesta (bukan
duniawi) dan kepada Sang Maha Cinta itu sendiri….
(note; bagi saya, cinta saya terbagi antara cinta yang abstrak dan
concrete)
18.17
di
teras depan rumah.
masih di
kursi hijau.
tanpa
suara mesin air yang berdenging lagi. telah dimatikan.
bak-bak
air telah terisi penuh.
di luar
pagar hijau-putih rumah.
jalan-jalan
tampak sepi.
anak-anak
telah kembali.
warna
senja mulai tampak nyata. awan-awan putih berganti merah keemasan. langit biru
mencari harmoni warnanya di atas sana.
angin
lembut semilir berganti angin malam yang mulai menusuk tulang.
suara
menggema diatas sana. suara panggilan syahdu saling menggema. panggilan syahdu
yang suci.
di
teras depan rumah.
beranjak
dari kursi hijau.
memenuhi
panggilan syahdu…
TKP


Komentar
Posting Komentar